JAKARTA - Tingkat penggunaan transportasi publik di Jakarta mengalami lonjakan signifikan sepanjang 2025.
Total penumpang moda angkutan massal yang dikelola BUMD mencapai 461 juta orang, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin percaya dan mengandalkan transportasi massal untuk mobilitas sehari-hari di ibu kota.
Pertumbuhan jumlah penumpang tidak hanya mencerminkan kepercayaan publik, tetapi juga menunjukkan efektivitas strategi pengelolaan transportasi massal oleh pemerintah provinsi.
Semakin banyak warga yang beralih dari kendaraan pribadi ke moda transportasi publik, yang berdampak pada berkurangnya kemacetan di sejumlah jalur utama. Fenomena ini juga memicu perhatian lebih terhadap pengembangan rute dan peningkatan kualitas layanan agar dapat menampung jumlah pengguna yang terus meningkat.
Selain itu, data peningkatan penumpang ini menjadi indikator penting bagi perencanaan transportasi jangka panjang.
Pemerintah daerah dapat menggunakan informasi tersebut untuk menyesuaikan kapasitas armada, menambah frekuensi perjalanan, dan memperluas jangkauan rute agar lebih optimal. Keberhasilan ini sekaligus menjadi bukti bahwa investasi dalam transportasi publik membawa manfaat nyata bagi mobilitas warga.
Transjakarta Masih Ungguli Moda Lain
Transjakarta tetap menjadi pilihan utama masyarakat dengan jumlah penumpang tertinggi sepanjang 2025. Layanan bus ini melayani 413,3 juta penumpang, naik 11,21 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan pertumbuhan yang konsisten dari tahun ke tahun.
Penambahan armada sebesar 19,09 persen dan penambahan enam rute baru turut memperkuat daya tarik Transjakarta bagi para pengguna transportasi publik.
Peningkatan jumlah armada ini memudahkan mobilitas warga di berbagai wilayah Ibu Kota, termasuk rute-rute yang sebelumnya kurang terjangkau. Penambahan rute baru juga memberikan alternatif perjalanan yang lebih efisien bagi penumpang yang ingin menghindari kemacetan.
Dengan demikian, Transjakarta tidak hanya mempertahankan basis penggunanya tetapi juga mampu menarik pengguna baru yang sebelumnya enggan menggunakan transportasi publik.
Strategi pengembangan armada dan rute ini menunjukkan komitmen Pemprov Jakarta untuk menghadirkan layanan transportasi yang handal dan nyaman.
Layanan Transjakarta yang andal juga berkontribusi terhadap pengurangan penggunaan kendaraan pribadi. Dampak positif ini dirasakan tidak hanya dari sisi mobilitas, tetapi juga dari aspek lingkungan dan kualitas udara di ibu kota.
MRT Jakarta Catat Pertumbuhan Konsisten
MRT Jakarta mencatat tren positif dengan kenaikan penumpang dua digit sepanjang 2025. Jumlah penumpang tercatat 45,8 juta, meningkat sekitar 5,2 juta dibandingkan 2024, yang menandakan pertumbuhan minat masyarakat terhadap moda transportasi cepat.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa MRT Jakarta semakin dipercaya sebagai alternatif mobilitas yang efisien dan nyaman di tengah padatnya ibu kota.
Peningkatan jumlah penumpang MRT juga memperlihatkan keberhasilan integrasi dengan moda transportasi lain seperti Transjakarta dan LRT. Para pengguna dapat memanfaatkan layanan gabungan untuk mencapai tujuan dengan lebih cepat dan efisien.
Selain itu, keandalan MRT dalam mengurangi waktu perjalanan menjadi faktor utama yang mendorong warga beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal.
Pertumbuhan ini juga berdampak pada rencana pengembangan jaringan MRT di masa depan. Pemerintah provinsi dapat merencanakan ekspansi rute dan penambahan stasiun baru untuk menjangkau wilayah yang sebelumnya kurang terlayani.
Dengan demikian, MRT Jakarta tidak hanya memenuhi kebutuhan transportasi saat ini tetapi juga mempersiapkan kapasitas untuk jangka panjang.
LRT Jakarta Terus Menarik Perhatian
Jumlah pengguna LRT Jakarta juga mengalami peningkatan sepanjang tahun 2025. Total penumpang mencapai 1,3 juta, naik hampir 9 persen dibandingkan 2024, dengan tambahan lebih dari 100.000 penumpang.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa LRT menjadi alternatif transportasi yang semakin diminati oleh warga, terutama untuk perjalanan jarak menengah di kawasan perkotaan.
Pertumbuhan LRT didorong oleh penyesuaian jadwal dan peningkatan kenyamanan layanan bagi pengguna. Peningkatan fasilitas stasiun, ketersediaan informasi perjalanan, dan keamanan yang lebih baik membuat warga lebih tertarik menggunakan LRT.
Layanan ini juga mendukung mobilitas harian pekerja, pelajar, dan masyarakat umum yang membutuhkan transportasi cepat dan tepat waktu.
Selain itu, keberadaan LRT turut melengkapi integrasi transportasi publik di Jakarta. Dengan tersambungnya LRT ke jaringan MRT dan Transjakarta, penumpang memiliki lebih banyak opsi untuk mencapai tujuan mereka tanpa bergantung pada kendaraan pribadi.
Hal ini memperkuat tren peningkatan pengguna transportasi publik di ibu kota secara keseluruhan.
Layanan Gratis dan Tantangan Subsidi
Pemprov Jakarta menyediakan layanan transportasi gratis bagi 15 golongan masyarakat, dengan total penerima 25.581.000 penumpang sepanjang 2025.
Program ini membantu meningkatkan aksesibilitas transportasi publik bagi warga yang membutuhkan, termasuk kelompok rentan dan masyarakat berpenghasilan rendah. Dengan adanya layanan gratis, masyarakat semakin terdorong untuk menggunakan moda transportasi massal secara rutin.
Namun, capaian positif ini diiringi dengan penurunan anggaran subsidi transportasi pada 2026 menjadi Rp 3,75 triliun. Penurunan subsidi disebabkan pengurangan dana transfer pusat dan membutuhkan strategi pengalokasian yang lebih efisien.
Pemerintah provinsi harus menyeimbangkan antara ketersediaan anggaran dan keberlanjutan layanan agar kualitas transportasi publik tetap optimal.
Penurunan subsidi juga mendorong inovasi dalam pengelolaan transportasi publik. Upaya efisiensi, peningkatan pendapatan non-tiket, dan integrasi moda transportasi menjadi strategi penting untuk menjaga layanan tetap berkelanjutan.
Dengan demikian, meski menghadapi tantangan subsidi, transportasi publik di Jakarta tetap mampu melayani jumlah penumpang yang terus meningkat.