JAKARTA - Penurunan aktivitas wisata di kawasan Sembalun membawa efek berantai bagi desa penyangga di sekitarnya.
Desa Bebidas di Kecamatan Wanasaba ikut merasakan dampak karena agrowisata kakao kehilangan sebagian besar pengunjung. Kondisi ini membuat petani harus memutar strategi agar usaha tetap berjalan.
Penutupan jalur pendakian Gunung Rinjani menjadi salah satu pemicu utama berkurangnya wisatawan. Biasanya, wisatawan yang selesai mendaki akan mencari tempat singgah di wilayah Sapit, Bebidas, atau Suela. Ketika arus wisata terhenti, roda ekonomi desa ikut melambat.
Kunjungan wisatawan mancanegara yang sebelumnya rutin terlihat mulai menghilang. Periode akhir tahun yang biasanya ramai justru terasa lengang. Situasi tersebut membuat aktivitas agrowisata kakao kehilangan momentum penjualan langsung.
Agrowisata Kakao Kehilangan Pembeli
Agrowisata kakao di Desa Bebidas selama ini mengandalkan wisatawan sebagai pasar utama. Setiap pekan, pengunjung biasanya datang untuk menikmati pengalaman berkebun sekaligus membeli produk kakao. Namun kondisi itu berubah drastis dalam waktu singkat.
Pengelola agrowisata mengaku jumlah tamu menurun tajam dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Dalam periode tertentu, hanya segelintir orang yang datang berkunjung. Setelah itu, tidak ada lagi aktivitas wisata yang berarti.
Minimnya kunjungan membuat pendapatan petani ikut tertekan. Produk kakao yang biasanya terserap melalui paket wisata kini menumpuk. Petani pun mulai mencari cara agar hasil panen tetap memiliki nilai jual.
Cuaca Buruk Tekan Kualitas dan Harga
Selain faktor wisata, kondisi cuaca turut memperberat situasi petani kakao. Musim hujan berkepanjangan menyulitkan proses pengeringan biji kakao. Akibatnya, kualitas hasil panen menurun secara signifikan.
Proses penjemuran yang biasanya memakan waktu lima hingga enam hari menjadi lebih lama. Dalam kondisi cuaca lembap, pengeringan bisa berlangsung lebih dari satu pekan. Hal ini meningkatkan risiko kerusakan biji kakao.
Penurunan kualitas berdampak langsung pada harga jual di pasaran. Harga kakao kering mengalami penurunan tajam dibandingkan periode sebelumnya. Petani harus menerima kondisi tersebut demi menjaga perputaran usaha.
Strategi Penjualan Online Jadi Alternatif
Menghadapi situasi sulit, petani kakao mulai mencoba jalur penjualan daring. Sistem penjualan dilakukan secara langsung kepada pembeli dengan metode pembayaran di tempat. Cara ini dianggap paling memungkinkan di tengah keterbatasan kunjungan.
Penjualan secara daring memang memberi harga sedikit lebih tinggi. Namun biaya pengiriman menjadi tantangan tersendiri bagi petani. Jika dihitung secara keseluruhan, keuntungan masih lebih kecil dibandingkan penjualan langsung di lokasi.
Meski begitu, penjualan online tetap dijalankan sebagai upaya bertahan. Petani melihat langkah ini sebagai solusi sementara. Harapannya, produk kakao tetap bergerak meski wisata belum pulih.
Paket Wisata Tetap Jadi Andalan
Sebelum kunjungan menurun, agrowisata kakao menawarkan pengalaman menyeluruh bagi wisatawan. Pengunjung diajak berkeliling kebun dan memanen buah kakao secara langsung. Proses pengolahan hingga pembuatan minuman juga menjadi daya tarik utama.
Dalam paket wisata tersebut, biji kakao biasanya dijadikan suvenir. Petani menyiapkan kemasan kecil untuk dibawa pulang wisatawan. Nilai jualnya lebih tinggi karena dikemas sebagai pengalaman, bukan sekadar produk.
Model ini masih dianggap paling menguntungkan bagi petani. Penjualan berbasis wisata memberi nilai tambah yang tidak tergantikan. Petani berharap aktivitas pariwisata kembali pulih agar pola usaha ini dapat berjalan normal kembali.